Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Berteman kaleng-kaleng bekas

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

SUASANA pagi yang segar, cerah dan bebas polusi merupakan dambaan setiap manusia. Namun hal ini tidak berlaku bagi tim kerja dari Kantor Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Sikka. Betapa tidak, untuk bisa menghirup udara pagi yang bebas polusi hanyalah harapan, setiap pagi mereka harus bergulat dengan dengan bau sampah yang ada di Kota Maumere.

Tim-tim kerja ini mulai melaksanakan tugasnya sejak pukul 04.00 wita, pekerjaan bersih-bersih kota ini baru tuntas sekitar pukul 10.00 wita. Selanjutnya limbah rumah tangga dan sampah buangan ini diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Wai Ri'i, 16 kilometer arah Barat Utara Kota Maumere.

Seperti yang disaksikan SPIRIT NTT, Senin (31/4/2008), pada umumnya satu tim "penyapu" sampah ini terdiri dari tiga hingga tujuh orang. Salah satunya tim kerja terdiri dari Monte, Damas Cen, Frans, Tonce dan Antonius Yulianus.
Lima tenaga dinas kebersihan ini mempunyai peran dan tugas yang berbeda. Dan, pada umumnya terdapat dua peran, yakni "penyapu ranjau sampah" (baca: pembersih) dan pengangkutan.

Monte, Frans, Damas Cen dan Tonce berperan sebagai pembersih. Selain membersihkan dan mengangkut sampah yang ada di badan jalan, selokan dan got, mereka juga mengangkut sampah dari bak-bak sampah yang yang telah disiapkan. Sementara Antonius Yulianus bertugas sebagai pengendara (sopir). Antonius Yulianus menjelaskan kegiatan pengangkutan sampah ini dilakukan setiap hari kerja. "Kami juga dibagi dalam tiga kelompok yang akan menangani zona bagian masing- masing," ujar Antonius.

Dia menyebut tiga zona tersebut yaitu bagian timur meliputi Jalan Adisucipto, Bandara Udara Waioti, Jalan Jenderal Ahmad Yani. Zona bagian tengah meliputi Pasar Lama Maumere, pasar tingkat, kompleks pertokoan, Kelurahan Kota Uneng, Kelurahan Kampung Kabor, dan Terminal Atas.

Sedangkan bagian barat meliputi sepanjang Jalan El Tari, Perumnas, Kelurahan Madawat, Terminal Madawat, RSUD TC Hillers Maumere. Antonius dan rekan- rekannya mulai melaksanakan tugasnya di Jalan A Yani, depan Toko Gunung Kawi, Toko Nita, Pelabuhan Sadang Bui Maumere, Jalan Tongkol, Jalan Anggrek dan pertigaan Jalan El Tari. Untuk selanjutnya sampah ini diantar buang ke TPA.
Sampah-sampah tersebut terdiri dari sak semen, kardus, karung plastik, kaleng-kaleng bekas, dedauan dan ranting pohon, bangkai yang telah membusuk serta berbagai jenis sampah rumah tangga. Sayangnya mereka tidak dilengkapi dengan kelengkapan kerja yang memadai seperti masker, sarung tangan, sepatu dan topi.

Tiga orang di antaranya Damas Cen, Frans dan Tonce mengenakan baju kaos berwarna kuning bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota di belakangnya, sedangkan Antonius Yulianus dan Monte mengenakan baju kaos oblong.

Dengan berpakaian seadanya seperti ini, tentunya akan memudahkan mereka terserang penyakit. Antara lain penyakit kulit, ISPA, dan penyakit lainnya. Karena sampah merupakan sumber penyakit.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Kabupaten Sikka melalui Gatot Muriyanto, Kepala Tata Usaha, saat dikonfirmasi SPIRIT NTT menjelaskan bahwa setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti ada sampah, setiap hari manusia menghasilkan 2.5 kg sampah.

Artinya, tiap hari ada sampah. Sumber sampah biasanya berasal dari rumah tangga, tempat-tempat yang ramai dikunjungi serta pasar. Di tanya soal tempat-tempat yang menjadi prioritas penanganan, Gatot mengungkapkan bahwa ada beberapa tempat yang menjadi prioritas antara lain di rumah-rumah yang padat penduduk, pasar, rumah sakit serta jalan-jalan protokol. "Tetapi sebetulnya semuanya ini harus merupakan tanggung jawab kami," ujar Gatot.

"Namun kami juga berharap mendapat dukungan dari masyarakat, antara lain masyarakat harus memiliki kesadaran akan bahaya sampah. Untuk itu sudah sepantasnya masyarakat bisa menertibkan sampah dengan mengemasnya dalam karung dan membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan," tambahnya.

Hal ini, katanya, perlu dilakukan guna mencegah bahaya banjir dan mengurangi risiko tempat sampah sebagai sumber dan sarang penyakit. Gatot mengakui ada kendala dalam penanganan masalah sampah. Pertama, ada sebagian masyarakat yang tidak menyerahkan lahannya menjadi tempat pembuangan sampah sehingga sampah belum bisa terkonsetrasi pada suatu tempat. Karenanya masih ada sampah-sampah berseliweran di sepanjang jalan dan trotoar.

Kedua, dengan bermodalkan 66 tenaga kontarak, sembilan buah kendaraan roda empat dan dua buah kendaraan roda tiga kaisar belum cukup untuk penanganan sampah secara maksimal. Ke depannya, harap Gatot, ada penambahan jumlah tenaga kontrak, biaya operasional, dan pengadaan kembali beberapa kendaraan operasional sehingga penanganan sampah bisa segera diatasi. (laurensius nale/djo/humas Sikka)
Selengkapnya...

PIDRA kurangi angka kemiskinan di Alor

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

KALABAHI, SPIRIT--PIDRA merupakan salah satu program yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup keluarga miskin di desa-desa sasaran di Kabupaten Alor. Selama ini Alor termarmarginalkan dan kurang mendapat akses atau perhatian. PIDRA berperan aktif dalam mengurangi angka kemiskinan walau jumlahnya kecil, yakni 1.563 keluarga miskin.

Hal ini disampaikan Asisten Administrasi Umum Setda Alor, Drs. Singsigus Pulingmahi, mewakili Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta, ketika membuka workshop persiapan pasca program PIDRA dan pelaksanaan gender Kabupaten Alor di Aula Hotel Kenari, Kalabahi, Rabu (23/4/2008).

Pulingmahi mengatakan, berbagai keberhasilan yang telah dicapai selama pelaksanaan program PIDRA di Alor yang dimulai tahun 2001 sangat dirasakan oleh masyarakat miskin yang tinggal di pedesaan yang menjadi sasaran program.

Indikator keberhasilan yang telah dicapai, di antaranya meningkatnya pendapatan kepala keluarga miskin yang tergambar dari jumlah dana umum yang ada di setiap kelompok, terkonservasinya lahan yang kritis sehingga dapat meningkatkan produktifvtas lahan kering, terpenuhinya kebutuhan akan air bersih, sarana jalan dan sarana ekonomi lainnya, serta pengembangan kelembagaan di tingkat desa, seperti kelompok mandiri dan federasi yang merupakan lembaga keuangan mikro yang diharapkan nanti menjadi lembaga kredit mikro di desa.


"Pada sisi lain, pelaksanaan program PIDRA juga telah mampu mengurangi ketidaksetaraan gender di tingkat rumah tangga keluarga miskin maupun tingkat pemerintahan desa, dimana keberhasilan kesetaraan gender terlihat dari pengelolaan rumah tangga yang dilakukan secara bersama-sama antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak lagi hanya berfungsi dalam reproduksi tetapi juga berperan dalam usaha-usaha produktif dalam menunjang ekonomi rumah tangga," katanya.

Dan, dalam tingkatan pemerintah desa, lanjutnya, kaum perempuan juga telah diberi kepercayaan untuk menempati posisi-posisi tertentu dalam bidang pemerintahan desa, seperti kepala desa, sekretaris desa, kepala dusun dan sebagainya. "Kaum perempuan juga mendapat kepercayaan yang sama dengan kaum laki-laki untuk menyampaikan pendapat dalam forum atau pertemuan-pertemuan. Hal ini sulit dilihat pada saat awal program PIDRA," katanya.

Mantan Kadis P dan K ini menegaskan, PIDRA sejalan dengan program pemerintah Gerakan Kembali ke Desa , Pertanian dan Kelauatan (Gerbadestan). Empat aspek program Gerbadestan juga terdapat dalam tiga komponen utama pelaksanaan PIDRA, yaitu pengembangan taraf hidup secara berkelanjutan meliputi pengembangan masyarakat, kesetaraan gender dan pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat serta usaha mikro pedesaan, pembangunan prasarana pedesaan dan pengembangan kapasitas kelembagaan dan manajemen program.

Dikatakannya, tahun 2008 merupakan tahun terakhir pelaksanaan program PIDRA di Alor. Hal ini menandakan bahwa program PIDRA akan berakhir sehingga persiapan- persiapan yang berkaitan dengan keberlanjutan pasca pendampingan program PIDRA dapat dilakukan secara terarah. Persiapan pasca pelaksanaan program telah diawali melalui pertemuan pembahasan strategsi program PIDRA di Surabaya yang diikuti seluruh manager program PIDRA.

Pulingmahi mengharapkan, apa yang diperoleh di Surabaya dapat diterapkan di Alor sehingga tujuan dari program ini bisa tercapai demi kesejahteraan petani. (humas pemkab alor)
Selengkapnya...

Banyak hal belum penuhi kaidah otda

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

KALABAHI, SPIRIT--Sejak 25 April 2001, awal pelaksanaan otonomi daerah (Otda), banyak hal belum memenuhi kaidah dan kriteria otonomi daerah (otda). Contohnya, dalam bidang personel, sejak tahun 2001 pegawai di Alor tidak cukup jumlahnya dan kualifikasi pangkat untuk menempati jabatan eselon II, juga tidak cukup kompetensi untuk mengelola dan bertanggung jawab terhadap keuangan negara.

Hal ini ditegaskan Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta pada pembukaan sosialisasi sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah dan sosialisasi persiapan RSUD Kalabahi menjadi badan layanan umum (BLU) di Aula Gereja Pola Tribuana, Kalabahi, Jumat (25/4/2008).

Ans mengatakan, pada 2001 pejabat yang menempati eselon IIIA adalah sekretaris daerah, ketua bappeda, kepala banwasda, sedangkan pimpinan dinas menempati eselon III V. Dalam UU Otda Nomor 22 Tahun 1999, menuntut terjadinya perubahan kewenangan dan struktur yang mana sekda menempati eselon II A dan kepala dinas eselon II B dan kepala kantor eselon III.

Menurut Ans, UU Otda diterbitkan dengan maksud agar personel atau pegawai yang ada di pemerintah pusat bisa mutasi ke propinsi atau kabupaten dan pegawai di propinsi bisa mutasi ke kabupaten sehingga alternatif kedua yang dilaksanakan Menteri Otda dengan mengubah masa kenaikan pangkat yang setahun dua kali, yakni periode April dan Oktober menjadi setahun empat kali periode kenaikan pangkat, yakni April dan Oktober, sehingga ada pegawai kenaikan pangkatnya bisa dua kali maupun tiga kali dalam setahun.

"Kenaikan pangkat tersebut terlaksana, tapi tidak diimbangi dengan tingkat kematangan emosional dan intelektual pegawai tersebut. Seharusnya seorang pegawai yang mendapat kenaikan pangkat harus diimbangi juga dengan kematangan emosional dan intelektual," kata Ans.

Ans menambahkan, tahun 1999, APBD Alor masih berkisar Rp 15 miliar meliputi dana rutin Rp 8 miliar dan dana pembangunan Rp 7 miliar, sehingga pada saat itu seorang pimpinan proyek yang memegang dana proyek Rp 100 juta saja sudah merupakan hal yang luar biasa.

Tapi dengan adanya Otda tahun 2001, yang mana telah mengalami kenaikan DAU yang begitu besar, katanya, seorang pimpro mengelola keuangan proyek mencapai Rp 1 miliar, tetapi kendalanya adalah kompetensi pengelolaan keungan yang dimiliki pimpro masih kompetensi lama. Hal ini berdampak buruk karena pengelolaannya terlambat.

"Ada banyak perubahan atau pergeseran regulasi pengelolaan keuangan daerah, namun secara nasional maupun propinsi belum ada program yang diletakkan untuk peningkatan kompetensi tentang bagaimana mengelola keuangan yang jumlahnya sangat besar," kata Ans. (humas pemkab alor)


Alor yang pertama

KETUA Tim Perwakilan BPKP NTT, F Gerry Batubara, mengatakan, Alor merupakan kabupaten yang pertama di NTT yang mengikuti implementasi Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dan menerapkan PP Nomor 41 Tahun 2007 dalam menata kelembagaan. Karena itu, BPKP Perwakilan NTT memberi hormat dan mensuport pelaksanaan peraturan ini.

Menurut Gerry, pemerintah pusat banyak mengeluarkan regulasi mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, dan keputusan lainnya. Dalam regulasi itu, BPKP perlu melaksanakan amanat UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 tentang Perbendaharaan Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

Sebagai lembaga pengawas, kata Gerry, BPKP berkewajiban mensosialisasikan dan menjalankan tugas pengawasan itu. Pengawasan, ujarnya, tidak bermaksud menyudutkan para pengelola tetapi bagaimana mengarahkan agar pengelolaan keuangan mampu dilaksanakan sesuai standar akuntansi keuangan yang ditetapkan negara. (humas pemkab alor)
Selengkapnya...

Pantai Mali belum dikelola dengan baik

Laporan Okto Manehat, Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

KALABAHI, SPIRIT-- Aset pantai wisata Mali di Kelurahan Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor minta diserahkan kepada pemerintah kelurahan setempat. Hal ini agar pengelolaannya lebih baik. Pasalnya, aset wisata yang indah ini kurang diperhatikan, tidak tertata baik dan pengelolaannya belum maksimal.

Hal ini disampaikan oleh Lurah Kabola, Rafael Penlaana, kepada SPIRIT NTT di Kabola, Selasa (6/5/2008). Ia mengatakan, pantai wisata Mali merupakan aset daerah yang potensial untuk mendulang pendapatan asli daerah (PAD). Namun potensi ini belum ditata baik. Buktinya, lanjut Penlaana, kurangnya pengunjung ke lokasi wisata itu.

"Ini karena kondisi pantai Mali kotor. Di pantai berserakan sampah kulit rokok, gelas aqua, sampah plastik dan kulit kelapa di semberang tempat. Fasilitas di lokasi pantai ini juga belum ditata baik sehingga tidak ada pemanfaatan maximal sehingga pengunjung enggan datang ke pantai Mali. Masuk pantai Mali harus bayar namun pengunjung tidak puas karena kondisi kotor. Masyarakat pada hari minggu atau hari libur memilih piknik ke pantai Maimol selain gratis masyarakat setempat mengelolanya sebagai pantai wisata yang standar," tandasnya.

Ia menyatakan, jika pantai wisata Mali diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kelurahan, maka akan dikunjungi banyak orang. "Kami jamin pantai ini akan semakin ramai dikunjungi. Mulai dari kebersihan hingga penataan fasilitas akan diperbaiki dan pantai wisata ini akan memberikan kontribusi PAD yang menjanjikan bagi pemerintah daerah," katanya.

Terhadap permintaan ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Alor, Drs. YO. Bulling, M.Si, dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (7/5/2008) mengatakan, aset ini tidak dapat diserahkan karena ada aturan main. Namun dia mengaku pantai wisata itu belum dikelola secara baik.

"Kami telah pantau lapangan untuk persiapan penataan. Pantai ini cuma dibersihkan petugas pada hari minggu karena ramai dikunjungi orang. Saya sudah instruksikan agar setiap hari pantai dibersihkan. Dalam waktu dekat akan dilakukan penghijaun disejumlah titik yang tandus, juga akan dibuat panggung untuk acara seni budaya. Kolam renang juga akan diperbaiki," tandas Bulling. *
Selengkapnya...

Lenggu Pimpin Desa Wederok

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

WEDEROK, SPIRIT--Okto Tomson Lenggu memimpin Desa Wederok masa bakti 2008-2014 yang ditandai pelantikan dan pengambilan sumpah oleh Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, di desa setempat, Jumat (2/5/2008). Pelantikan dirangkaikan dengan pengambilan sumpah 67 anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) se-Kecamatan Weliman.

Dalam sambutannyam Bupati Lopez mengatakan, pengesahan Okto Lenggu menjadi Kepala Desa (Kades) Wederok adalah legitimasi secara administrasi bukan pengangkatan. Sebab, legitimasi politik berasal dari rakyat yang memilih kades.

"Seorang pejabat atau bupati tidak sewenang-wenang mengesahkan kades bila tanpa usulan BPD baik secara politis maupun moral yang bertanggung jawab kepada pemegang kedaulatan," ujar Lopez.

Sesuai tupoksi, katanya, bupati dan jajarannya hanya memberi pembinaan dan pengayoman kepada kades terpilih untuk menjadi pemimpin. "Menjadi pemimpin bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani," katanya.

Dulu, demikian Bupati Lopez, BPD hanya dilantik tidak disumpah, tapi kini diambil sumpah dan dilantik sama seperti seorang kepala desa. Dengan nomenklaturnya berubah dari badan perwakilan desa menjadi badan permusyawaratan desa. Hal ini dilakukan karena strategi dalam praktek otonomi daerah dimulai dari desa. Konsekwensinya, lembaga ini (BPD) sejajar dengan desa bukan di bawah desa sesuai tupoksi yang berbeda.

"Tugas eksekutif ada di tangan kepala desa, sementara menyangkut peraturan desa dan kebijakan bersama ada di tangan BPD yang merekam, menampung dan mengelola aspirasi rakyat bersama kepala desa. Tugas ini mulia karena memperhatikan kepentingan masayarakat luas," tegasnya.

Bupati Lopez merasa bangga atas terpilihnya seorang kades beragama protestan. Menurutnya, masyarakat setempat sudah rasional tanpa ada perbedaan lainnya. Bupati Lopez meminta kades agar pandai merangkul, baik tokoh adat, tokoh masyarakat serta tidak segan-segan bekerja sama dengan siapa saja, tapi jangan kerja sama untuk perjudian karena pada akhirnya menyengsarakan rakyat.

Wakil Ketua DPRD Belu, Ludovikus Taolin, dalam arahannya meminta kades agar tidak memilah-milah pemilih karena itu pratanda awal sebuah kegagalan. Talon mengingatkan kades mengelola bantuan desa secara transparan, tertib administrasi agar terhindari dari jeratan hukum. Saat ini bantuan desa meningkat dari Rp 30 juta menjadi Rp 50 juta.

Pelantikan kades ini dihadiri saksi rohaniwan Pdt. Aplonia Ndoen, dan rohaniwan Katolik Romo Yosep Meak, Pr, yang saat itu masing-masing menyampaikan doa pengukuhan.
Turut hadir sejumlah anggota DPRD Belu, para kepala dinas, badan, kantor, bagian lingkup Setda Belu, Camat Weliman, para kades, para kepala sekolah, tokoh masyarakat, tokoh adat dan masyarakat setempat. (humas belu)
Selengkapnya...

Rakyat berhak menentukan pemimpin mereka

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Rakyat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung, baik pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Belu. Dalam proses ini, rakyat diberi kesempatan untuk menentukan pemimpin mereka sesuai dengan hati nurani.

Hal ini diungkapkan Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, dalam sambutannya pada pembukaan Sidang I DPRD Belu, Senin (28/4/2008). Bupati Lopez melukiskan 2008 sebagai tahun bersejarah karena ditandai dua peristiwa besar.

Pertama, pada tahun ini untuk pertama kalinya diselenggarakan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Belu secara langsung.

Kedua, dalam tahun ini juga dilakukan pembaharuan dan penyesuaian struktur organisasi perangkat daerah Kabupaten Belu berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.

Dia menyebut salah satu agenda reformasi adalah reformasi birokrasi untuk menata dan meregulasi seluruh aspek penyelenggaraan pemerintahan, termasuk di dalamnya penataan organisasi perangkat daerah. "Dalam konteks ini, sidang DPRD Belu tahun anggaran 2008 untuk membahas dan mengkaji beberapa rancangan peraturan daerah (Ranperda) yang diajukan oleh pemerintah untuk memenuhi amanat PP No. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah," ujar Bupati Lopez. Ditambahkannya, semua itu dilakukan dalam rangka memantapkan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Belu.

Adapun ranperda yang akan dibahas bersama antara pemerintah dan DPRD Belu, pertama, Ranperda Kabupaten Belu No. 1 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemkab Belu. Kedua, Ranperda No. 2 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten Belu.

Ketiga, Ranperda No. 3 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan. Keempat, Ranperda No. 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah. Kelima, Ranperda No. 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah.

Keenam, Ranperda No. 6 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan. Ketujuh, Ranperda No. 7 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja PDAM Belu. (humas belu)
Selengkapnya...

Fokus pada tugas dan kewajiban

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Para kepala desa di Belu harus fokus pada tugas dan kewajiban sebagai pejabat publik. Tugas utama kades adalah melayani sebagai seorang abdi masyarakat.

Permintaan ini disampaikan Bupati Belu, Drs Joachim Lopez, ketika mengambil sumpah dan melantik Kepala Desa Dafala, Belmindo Roberto Rinmalae dan Kepala Desa Sarabau, Mikael Besin, di Kantor Desa Dafala, Rabu (30/4/2008).

Dikatakannya, karena kepala desa dipilih rakyat hendaknya memfokuskan tugas dan kewajiban dengan memberikan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi rakyat. "Jangan ada jarak dengan masyarakat. Kepala desa harus dekat dengan masyarakat. Seorang kepala desa yang menjaga jarak dengan masyarakat pertanda di ambang kegagalan," tegas Lopez.

Bupati Lopez menyebut tiga tugas pokok dan kewajiban kepala desa. Pertama di bidang ketahanan pangan. Kepala desa harus mampu memotivasi masyarakat untuk memanfaatkan lahan tidur dengan membuka areal lahan kering dan lahan basah. "Jangan membuat rencana yang muluk-muluk tapi yang realistis sajalah. Seorang kepala desa harus punya data riil luas lahan masyarakat," katanya.

Pemerintah, katanya, telah berusaha mengoptimalisasi pemanfaatan lahan tidur dengan memberi bantuan hand tractor dan traktor besar, mekanisasi, bantuan pupuk dan bibit unggul. Ini belum cukup kalau masyarakat tidak berusaha lebih keras lagi.
Dengan nada bergurau, Bupati Lopez mengatakan membuka jalan bukan untuk pergi pulang cari makan di Kota Atambua tapi untuk mempermudah transportasi hasil bumi dari desa ke kota.

Kedua, bidang pendidikan. Perhatian pemerintah di bidang ini cukup besar. Rehabilitasi ruang belajar dan bantuan buku dari tahun ke tahun meningkat. "Setiap tahun dana miliaran rupiah dikucurkan untuk merehabilitasi ruang belajar dan bantuan buku," tegas Bupati Lopez.

Ketiga, bidang kesehatan. Isu gizi buruk pertanda masyarakat kurang memahami arti penting kesehatan dan nilai gizi bagi anak. Posyandu dan polindes sebagai bagian dari intervensi pemerintah dan sarana kesehatan lainnya untuk mengatasi problem kesehatan.

Namun sangat disayangkan jika ada orang tua enggan membawa anaknya ke posyandu. Lingkungan yang sehat pun tidak luput dari sentilan bupati. "Jadikan lingkungan di sekitar kita bersih dan sehat. Jangan jadikan lingkungan sebagai sarang nyamuk. Inipun tugas kepala desa sebagai pelayan masyarakat agar mengimbau, mendorong dan memotivasi masyarakat. "Apabila ketiga aspek ini diperhatikan maka dengan sendirinya aspek yang lain akan maju bergerak," ujar Lopez.

Demokrasi berjalan baik
Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, menilai selama ini proses demokrasi di Belu khususnya pilkades sudah berjalan baik. Dalam arti, frekuensi pengaduan berkurang. Hal senada juga diungkapkan Dermawan bahwa seorang kepala desa harus memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

"Hari ini saudara dilantik, Garuda terpasang di dada, artinya beban berat yang harus Anda pikul. Ciptakan keadilan. Jadilah pelayan masyarakat yang benar-benar optimal dalam memberikan pelayanan. Kalau boleh seorang kepala desa bertugas 24 jam," pesannya. (humas belu)
Selengkapnya...

Jelang Pilkada, hentikan polemik

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Masyarakat Belu khususnya dan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) umumnya diimbau untuk menghentikan polemik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur dan Wakil Gubernur NTT serta pilkada Bupati dan Wakil Bupati Belu.

Imbauan ini disampaikan Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, ketika membuka sidang I tahun 2008 DPRD Belu, di Aula Gedung DPRD Belu, Senin (28/4/2008). Imbauan ini dikemukakan karena pada tiga pekan lalu telah terjadi aksi demo oleh warga baru di Belu yang menuntut hak mereka kepada pemerintah pusat. Tuntutan ini berbuntut tindakan anarkis.

Dijelaskannya, berbagai demonstrasi yang melanda Kabupaten Belu patut dihargai sebagai dinamika menuju kedewasaan demokrasi. Namun semua ini perlu diakhiri karena sudah memasuki masa pilkada.

Dia meminta warga Belu menjaga situasi agar tetap kondusif sehingga masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan baik pada pilkada gubernur dan wakil gubernur serta pilkada Bupati dan Wakil Bupati Belu tahun ini. "Siapapun yang terpilih nanti, kita harus hargai dan junjung tinggi sebagai hasil dari sebuah demokrasi," katanya.
Dermawan menyampaikan terima kasih kepada aparat keamanan yang bekerja keras berupaya melindungi dan mengayomi masyarakat Belu dari berbagai gangguan sehingga situasi tetap kondusif. (humas belu)
Selengkapnya...

Bupati Lopez lantik Kades Kakaniuk

Spirit NTT, 12-18 Mei 2008

ATAMBUA, SPIRIT--Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez, melantik dan mengambil sumpah Kepala Desa (Kades) Kakaniuk, Petronela Luruk, di Kantor Desa Kakaniuk, Jumat (2/5/2008). Pada momen yang sama Bupati Lopez melantik 23 orang anggota BPD se-Kecamatan Malaka Tengah.

Dalam sambutannya, Bupati Lopez mengatakan, menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan atau abdi. "Jadi, jangan pikir yang muluk-muluk tetapi berpikirlah masalah yang dihadapi masyarakat," pesannya.

Kepada para kades dan anggota BPD, Bupati Lopez menekankan dua hal. Pertama, kecukupan pangan. Luas lahan kering dan basah serta lahan tidur yang tidak digarap perlu didata agar bisa disentuh dengan teknologi.

Kedua, pendidikan juga didata agar anak usia sekolah wajib menikmati pendidikan karena setiap tahun dibangun penambahan ruang kelas baru untuk semua sekolah.
Ketiga, kesehatan juga perlu digalakkan. Anak balita harus dibawa ke posyandu di desa. Balita gizi kurang, gizi buruk agar mendapat pelayanan yang seimbang.

Menyinggung bantuan desa yang meningkat menjadi Rp 50 juta tiap desa, Bupati Lopez meminta agar penggunaannya disepakati bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) demi kemajuan pembangunan desa.

"Menjadi pejabat publik memiliki kewenangan terbatas, tidak segala-galanya. Jadi, perlu diawasi oleh BPD sebagai mitra sejajar dengan kepala desa sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing," ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Belu, Ludovikus Taolin, B.A mengingatkan kepala desa terpilih merangkul semua warga Kakaniuk, baik yang memilih maupun yang tidak memilih karena semuanya adalah rakyat ibu kades. "Tidak boleh membedakan tetapi duduk bersama untuk membangun rai Kakaniuk," tegasnya. (humas belu)


Selengkapnya...

Bom ikan merusak biota laut di Solor

Laporan Martin Lau Nahak, Spirit NTT 5-11 Mei 2008

SOLOR TIMUR, SPIRIT-- Maraknya penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau bom ikan di wilayah perairan sebelah selatan Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, merusak biota laut. Wilayah perairan yang paling marak terjadi aksi pemboman ikan adalah di Desa Watohari dan Desa Watanhura I, Kecamatan Solor Timur.
Kepala Desa (Kades) Watanhura I, Bonefasius Maran dan Sekretarisnya, Petrus Lamen yang dihubungi secara terpisah di Solor Timur, Rabu (30/4/2008), membenarkan kondisi tersebut.
"Saya sudah lapor kepada aparat yang berwenang, termasuk Polsek Solor Timur dan Danramil tapi belum ada upaya pencegahan di lapangan. Pasalnya, aparat di Solor Timur tidak dilengkapi sarana penunjang untuk melakukan pengawasan di laut," kata Kades Maran.

Sekdes Wantanhura I, Petrus Lamen mengatakan, aksi pemboman ikan di Solor Timur sudah berlangsung lama. Terumbu karang menjadi hancur dan kini nelayan lokal sulit mendapat ikan karena rusaknya biota laut di wilayah itu.
Kades Lamawai-Solor Timur, Abdul Salem yang ditemui belum lama ini, mengaku heran dengan aksi para nelayan yang tidak bertanggung jawab itu.
"Mereka (nelayan) merakit bom dengan mesiu, lalu mesiu itu didapat darimana? Sebab mesiu itu tidak dijual bebas di Flotim. Saya usulkan kepada Kapolres Flotim dan Kapolda NTT menjaga keamanan laut di pulau-pulau kecil di NTT, termasuk Solor Timur. Perlu ditempatkan pos jaga yang lengkap dengan sarana penunjang," kata Abdul Salem.
Romano Keni, nelayan yang ditemui di Solor Timur, mengeluhkan hasil ikan yang mereka peroleh setiap kali melaut, turun jauh dibandingkan dengan keadaan sekitar lima tahun lalu. Populasi ikan menurun drastis akibat nelayan asal luar Solor menggunakan bahan peledak.
Romano mencontohkan, pada hari Jumat (25/4/2008) dirinya dan teman-teman menyaksikan 17 perahu motor dari luar Flotim melakukan pemboman ikan di sepanjang pantai selatan Solor Timur. *

Selengkapnya...

Jalan di Solor rusak berat

Laporan Martin Lau Nahak, Spirit NTT 5-11 Mei 2008

SOLOR TIMUR, SPIRIT--Masyarakat di Kecamatan Solor Timur dan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur (Flotim) mengeluh karena alat berat milik PT Roda Mandiri dan CV Putri Lembata yang mengerjakan proyek jalan di Solor, merusak 11 kilometer (km) jalan di wilayah itu.
Pantauan SPIRIT NTT di Solor Timur, Rabu (30/4/2008), 11 km jalan propinsi di Wulublolong yang sebelumnya mulus, rusak akibat dilintasi alat berat milik PT Roda Mandiri. Kontraktor ini menang tender dan mengerjakan proyek peningkatan jalan kabupaten sepanjang 2,5 km antara Labelen-Tanahwerang di Solor Timur.

Camat Solor Timur, Ramly Lamanepa, S.Sos mengakui kondisi itu. Menurut dia, keluhan masyarakat Solor Timur terkait kerusakan jalan 11 km itu telah disampaikan kepadanya oleh kepala desa. Ia juga sudah memantau langsung dan membuat laporan kepada Bupati Flotim, melalui surat tanggal 1 Maret 2008 dengan tembusan kepada Wabup Flotim, Kepala Bappeda, dan Kadis PU Flotim.

Dalam surat Camat Solor Timur tersebut, yang diperoleh SPIRIT NTT menyebutkan bahwa peningkatan jalan kabupaten lintas Labelen-Tanahwerang sepanjang 2,5 km di Kecamatan Solor Timur TA 2007 dikerjakan PT Roda Mandiri. Akibat alat berat yang melintas maka jalan propinsi sepanjang 11 km lintas Wulublolong-Labelen, rusak.
Ruas jalan raya di Solor Timur maupun Solor Barat, juga rusak akibat mobilisasi alat berat milik PT Putri Lembata. Perusahan ini mengerjakan proyek jalan kabupaten sepanjang 2,5 km. Alat berat yang melintas mengakibatkan aspal jalan terkelupas dan jalan rusak seperti tidak pernah diaspal.
Direktur PT Putri Lembata, Paskalis Kolin yang dikonfirmasi melalui telepon ke penginapannya di Larantuka, Kamis (1/5/2008), tidak berada di tempat. "Paskalis ada di Lembata atau di Solor," kata pemilik Hotel Sahabat, Frans Kera Kolin.
Terkait buruknya kualitas proyek jalan TA 2007 senilai Rp 2 miliar lebih yang dikerjakan PT Putri Lembata, Kabag Ekonomi Pembangunan Flotim. Drs.Yos Langkamau, yang ditunjuk bupati sebagai pengawas proyek tersebut, menjelaskan, hingga Januari 2008 PT Putri Lembata gagal melaksanakan proyek jalan di Solor karena fsik proyek belum mencapai 15 persen.
"Buruk pekerjaan kontraktor itu. Kami sudah tegaskan kepada Kadis PU, Ir. Sastro Yohanes agar mem-PHK kontraktor itu. Saya tidak tahu apakah perintah bupati ke Kadis PU untuk PHK kontraktor sudah dilakukan atau belum karena belum ada laporan," jelas Langkamau. Terkait kerusakan jalan propinsi 11 km, dia mengatakan, Pemkab Flotim akan melapor ke Pemprop NTT. *

Selengkapnya...

Menelusuri tapak sejarah di tanah leluhur

Spirit NTT 5-11 Mei 2008

WACANA pembentukan kabupaten baru di Adonara kini memasuki tahapan kajian akademis. Pemerintah Kabupeten Flores Timur (Flotim) menghadirkan tim ahli dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada-Yogyakarta.
Tim yang terdiri dari Cornelis Lay, Purwo Santoso, Ratnawati, Wawan Mas'udi serta Nova Dona Bayo itu selama seminggu sejak 7 April 2008 berada di Flores Timur untuk melakukan kajian. Saya bersama wartawan Pos Kupang Marthen Lau mendampingi rombongan kecil itu selama sua hari mengelilingi Adonara. Berikut catatan lepas saya bersama tim itu.

Lima orang dosen dan peneliti dari Program Pasca Sarjana Politik Lokal dan Otonomi Daerah pada Jurusan Ilmu Pemerintahan- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada-Yogyakarta berada di Flores Timur. Sekitar jam 07.30 wita Rabu, 9 April 2008, tim menyeberangi selat Larantuka ke Tobilota. Ini mengkin merupakan perjalanan laut pertama mereka menggunakan motor kecil menyeberangi selat berarus kencang. Dari Tobilota, dengan sebuah truk tua menyusuri jalur Tobilota-Waiwarang. Di ibukota Adonara Timur itu, kami bermalam di Penginapan Asri.

Apa gerangan tim ini di Adonara?
Setelah beristirahat sejenak di Asri, rombongan kecil itu lalu ke Kantor Camat Adonara Timur. Agendanya, untuk bertemu dan bertukar informasi dengan komponen masyarakat dari 8 kecamatan di Adonara. Ada sekitar 30-an orang hadir di sana, di antaranya para camat dan mantan birokrat asal Adonara, juga FPArK (Forum Perjuangan Adonara Kabupaten).
Walau tema besar kajian tim ini adalah atasnama Adonara Kabupaten, namun Cornelis Lay selaku ketua tim lebih awal menegaskan bahwa tujuan utama kajian akademis ini sama sekali tidak untuk memutuskan apakah Adonara layak atau tidak layak jadi.
"Bukan soal dimekarkan atau tidak dimekarkan. Tujuan utama kita adalah menghasilkan sebuah masukan bagi pemerintah tentang pengembangan pembangunan Flores Timur ke depan secara menyeluruh."
Kata pengantar Cornelis Lay ini bagai arus listrik yang mengejutkan banyak orang yang ada dalam aula bekas kantor Swapraja Adonara - peninggalan kolonial Belanda itu. Begitu pula ketika Asisten Tata Praja Pemkab Flores Timur, Dominikus Demon, mengumumkan pemecahan forum menjadi empat kelompok diskusi yang lebih kecil, ada kelompok para birokrat dan mantan birokrat, kelompok para tokoh masyarakat dari delapan wilayah kecamatan, kelompok ketiga para aktivis dan pegiat LSM, serta kelompok orang-orang muda. Mereka membahas tiga tema besar yang telah diidentifikasi tim, yaitu soal kemiskinan, isolasi dan konflik.
Diskusi baru bubar usai makan siang, namun diskusi tidak berhenti di situ. Di penginapan masih ada diskusi informal untuk menggali lebih banyak lagi informasi tentang Adonara, dari masa ke masa.
Tema diskusi pun beragam, mulai dari sejarah Adonara, perkembangan ekonomi Adonara, penyebaran agama, pendidikan, kesehatan, sejarah pemerintahan di Adonara, hingga konflik tanah yang sering berakhir dengan pertumpahan darah di Adonara.
Diskusi di para tokoh utusan dari delapan kecamatan yang berlangsung aula Kantor Camat dipandu Cornelis Lay mengisyaratkan bahwa salah satu penyebab tidak tuntasnya penyelesaian konflik tanah di Adonara selama ini adalah akibat penerapan sistim hukum di negeri ini yang lebih pengutamaan hukum formal dan mengabaikan hukum adat.
Walau begitu, seluruh peserta diskusi pun tidak mampu merumuskan dengan kata-kata mereka sendiri tentang mekanisme adat seperti apa yang paling tepat untuk menyelesaikan setiap konflik berdarah yang timbul.
Kasus Tobi-Lewokeleng di Ile Boleng yang telah bertahan selama delapan tahun tanpa penyelesaian yang berarti adalah salah satu bukti bahwa penyelesaian secara adat sepertinya sudah tidak mempan lagi di Ile Boleng?
Menyusuri secara lebih jauh ke belakang lagi tapak sejarah di Adonara, ditemukan sebuah cerita soal tentang perang Paji- Demon di tahun 1859. Ketua FPArK, SO Corebima dalam diskusi informal di Asri sepertinya ingin mengabaikan perang itu sendiri dengan mengatakan bahwa, "Sekarang, proses kawin mawin antara keturunan paji dengan keturunan demon sudah semakin meluas. Sebagai contoh, saya orang demon menikah dengan isteri saya orang paji. Sudah tidak apa-apa lagi, dan sudah sering terjadi."
Apakah kawin mawin seperti yang digambarkan Corebima itu mutlak menyelesaikan konflik itu sendiri, atau justru hanya mendiamkannya agar tidak tampak riaknya di permukaan?
Sebab, penyelesaian secara menyeluruh sebuah konflik, apalagi itu konflik berdarah, tidak sesederhana yang dibayangkan. Dan itu haruslah dimulai dengan mengkaji secara lebih mendalam untuk mengetahui akar permasalahannya.
Memang, ada penuturan yang menyebutkan bahwa perang Paji- Demon adalah sebuah strategi kolonial Belanda untuk bisa menduduki wilayah itu, yaitu dengan mengadu domba dua saudara yang mengusai wilayah Lamaholot? Kalau betul demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah mengapa kita mudah diadu domba seperti itu?
Proses pembaur melalui perkawinan seperti yang digambarkan SO Corebima bisa saja benar, sebagai upaya untuk mengakhiri perang saudara. Sejarah raja-raja dahulu juga menggunakan taktik seperti itu, tetapi menduduki dan menguasai atau untuk memperkuat bala tentara mereka, bukan untuk mengakhiri perang.
Lalu, menjadi pertanyaan yang menarik adalah apakah diam yang tercipta melalui pembaruan dengan cara perkawinan seperti itu bisa menjamin bahwa potensi konflik telah tiada?
Mengantar kita ke dalam permenungan di atas, pertanyaan lain yang ingin saya dikemukakan di sini adalah mengapa dari sembilan bupati yang memimpin Flores Timur sejak awal hingga sekarang, lima bupati di antaranya berasal dari kalangan tentara?
Cornelis Lay menyebut ada dua kemungkinan mengapa demikian, pertama, kalau ada potensi ekonomi yang sangat besar dan kedua, karena situasi dan kondisi keamanan di daerah itu tidak kondusif atau memiliki potensi konflik yang besar. Di manakah posisi Flores Timur?
Mengapa semuanya harus dibuka sejak awal untuk dikaji satu per satu dalam proses menuji Adonara kabupaten ini?
Cornelis Lay kemudian mengemukakan sejumlah contoh konflik berdarah yang meletus di beberapa daerah pemekaran.
Konflik berdarah di Maluku Utara misalnya; disebutkan oleh lelaki berdarah Sabu itu bahwa potensi itu sudah ada sejak lama berkaitan dengan perebutan potensi tambang emas yang berada diperut bumi persis pada lima desa yang kini diperebutkan lima daerah pasca pemekaran.
Selain konflik berdarah yang mengorbankan rakyat kecil tak berdosa, di tiap-tiap desa itu kini terdapat dua pemerintahan desa yang masing-masing berkiblat ke satu kabupaten. Kehidupan desa pun menjadi tak karuan. Masih ada konflik lain lagi yang dikemukakan peneliti senior itu, yang disebutnya akan disajikan dalam laporan hasil kajian tentang Adonara.
"Ini semata-mata karena kita tidak ingin ada konflik di Adonara justru terjadi setelah pemekaran," katanya. Alasan ini pula yang sering tim ini gunakan untuk menolak berbagai tawaran dari sejumlah daerah untuk melakukan kajian bagi pemekaran wilayah.
Dan, Flores Timur merupakan daerah kedua yang mereka terima untuk melakukan kajian, setelah pertama adalah sebuah kabupaten di Papua, yang disebut sebagai kabupaten peling tinggi di Indonesia. (peren lamanepa)





Selengkapnya...

Sekolah di Solor gelar pentas budaya

Laporan Tony Kleden, Spirit NTT 5-11 Mei 2008

SOLOR BARAT, SPIRIT--Guna menghidupkan sekaligus menanam kecintaan terhadap budaya Lamaholot kepada anak- anak sekolah sejak dini, sekolah-sekolah di Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur menggelar pentas budaya. Pentas budaya Lamaholot yang digelar mengisi Hari Pendidikan Nasional ini dipusatkan di Desa Karawatung, Solor Barat, Kamis-Jumat (1-2/5/2008).
Ketua Panitia, Tomas Suban Ledor, yang menghubungi SPIRIT NTT melalui telepon dari Karawatung, Jumat (2/5/2008) malam, menjelaskan, ada berbagai mata lomba yang digelar. Antara lain lomba mata pelajaran MIPA kelas 3 dan 4 SD, lomba wiyata mandala (sekolah sehat), lomba paduan suara lagu-lagu daerah.
"Yang menarik ialah bahwa perayaan ini bernuansa Lamaholot. Lagu-lagu yang dilombakan adalah lagu-lagu gubahan komponis asal Solor seperti Marselus Niron dengan lagunya 'Solor Manise' dan Valentinus Odiama Kein dengan lagu 'Mura Rame'," kata Ledor.


Rangkaian kegiatan yang diikuti enam SD dan lima TK ini dibuka oleh Pastor Paroki Pamakayo, Rm. Eman Temaluru. Romo Eman ketika membuka acara ini mengharapkan agar semua komponen yang terkait dengan sektor pendidikan agar menumbuhkan kreativitas bagi anak-anak, mendorong anak- anak agar rajin belajar sehingga bisa berguna bagi diri sendiri dan orang lain.
Menurut Ledor, rangkaian acara dalam nuansa Lamaholot ini digelar karena ada kegelisahan banyak anak-anak sekarang mulai lupa akan budaya daerahnya. Anak-anak terlalu terpengaruh oleh budaya modern yang disajikan oleh televisi, sehingga cenderung lupa kekayaan budayanya sendiri.
"Kita prihatin karena banyak anak-anak sekarang sudah terlalu dipengaruhi budaya modern yang belum tentu menguntungkan mereka. Karena itu sejak dini kita tumbuhkan kesadaran mereka agar tetap mencintai kekayaan budayanya sendiri," kata Tomas. *

JUARA LOMBA :

* MIPA Kelas 3 SD : 1. SDK Pamakayo; 2. SDK Penilering; 3. SDI Pamakayo

* MIPA Kelas 4 SD: 1. SDK Penilering; 2. SDI Ongale; 3. SDK Pamakayo.

* Wiyata Mandala SD: 1. SDI Pamakayo; 2. SDK Karawatung; 3. SDK Rianglaka

* Wiyata Mandala TK: 1. TK St. Arnoldus Karawatung; 2. TK Sta. Teresia Pamakayo; 3. TK St. Fransiskus Asisi Ongalere

* Paduan Suara SD : 1. SDK Penilering; 2. SDK Rianglak; 3. SDK Pamakayo.





Selengkapnya...

Laporan polisi

Spirit NTT 5-11 Mei 2008

SETELAH menemukan sebuah mobil kosong tanpa plat nomor yang belum diketahui pemiliknya di pinggir jalan, seorang polisi yang berpangkat kopral kembali ke kantornya untuk melapor kejadian itu kepada letnan atasannya.
"Di mana kau temukan mobil itu?" tanya letnan.
"Di jalan Eucalyptus Letnan, dekat kampus Fakultas Pertanian."
Sang letnan lalu membuka buku laporan dan mulai menulis. Ketika sampai pada nama jalan, letnan itu mengeja satu persatu huruf yang ditulisnya: E-C-A-L.. Untuk beberapa saat dia berhenti, lalu mencoret tulisannya. Letnan mencoba mengingat-ingat lagi, dan menulis: E-K-A-L.... Tapi lagi-lagi dia mencoretnya. Sang letnan pun kehilangan kesabarannya.
"Kopral! Kau tulis sendiri saja laporannya! Saya masih banyak pekerjaan!"
"Baik letnan!", jawab si kopral.

Sang kopral pun mulai menulis sendiri laporannya. Tetapi setelah beberapa menit, dia kelihatan memakai helmnya lagi dan buru-buru pergi ke luar.
"Mau kemana, Kopral?"
"Kembali ke jalan Eucalyptus, Letnan! Saya akan dorong mobil itu sampai ke belokan terdekat. Di situ kan ada jalan Jati!"


Tolong BEBASKAN
suami saya

SEORANG wanita pergi menghadap Gubernur Alabama. Dia memohon agar pemerintah membebaskan suaminya yang telah mendekam di penjara setempat selama beberapa waktu.
"Mengapa dia bisa dipenjara?" tanya gubernur.
"Karena mencuri daging," jawab wanita itu.
"Tampaknya tidak terlalu berat kasusnya. Apakah dia pekerja yang rajin?" tanya gubernur lagi.
"Tidak. Saya tidak dapat mengatakan kalau dia rajin. Dia sangat malas," jawab wanita itu.
"Oh..., tapi dia sangat berarti bagimu dan anak-anak kalian, bukan?" tebak gubernur.
"Tidak juga. Dia sangat kasar pada kami, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya," jawabnya memelas.
"Lalu, mengapa Anda menginginkan pria seperti itu segera dibebaskan dari penjara?" tanya gubernur penasaran.
Sembil mendekati Sang Gubernur wanitu itu berkata, "Begini, Pak Gubernur. Masalahnya, kami sudah kehabisan persediaan daging beberapa waktu ini!"


Supir taksi KAGET

DALAM sebuah taksi yang telah berjalan beberapa jauh. Sekian waktu juga tanpa ada percakapan antara penumpang dan supir. Namun sang penumpang menepuk pundak supir taksi untuk meminta berhenti sebentar memberi air minum.
Reaksinya sungguh tak terduga. Supir taksi begitu terkejutnya sampai tak sengaja menginjak gas lebih dalam dan hampir saja menabrak mobil lain. Akhirnya ia bisa menguasai kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Tolong, jangan sekali-kali melakukan itu lagi!" kata supir taksi dengan wajah pucat dan menahan marah.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengejutkan. Saya tidak mengira kalau menyentuh pundak saja bisa begitu mengejutkan bapak."
"Persoalannya begini, ini hari pertama saya jadi supir taksi. Bapak juga merupakan penumpang pertama."
"Ohh begitu? Terus kok bisa kaget begitu?"
"Sebelumnya saya adalah supir mobil jenazah," jelas si supir.


HANYA di atas yang tahu

SUATU hari ada dua bocah main petak umpet di sebuah kebun yaitu Udin dan Uli. Ketika mereka asyik bermain, datang sepasang kekasih di kebun itu untuk memadu kasih mereka. Spontan kedua bocah tersebut sembunyi. Udin sembunyi di bawah tempat duduk kecil yang ada di pondok tersebut, sedangkan Uli naik di atas pohon dekat pondok tersebut. Setiba di pondok itu sepasang kekasih tersebut langsung berhubungan badan.
Setelah puas, sang wanita berkata, "Mas perbuatan kita ini berdosa... bagaimana jika ada orang yang tahu tentang hal ini."
"Tenang hanya di atas yang tahu perbuatan kita ini," jawab si pria menenangkan si wanita.
Saking ketakutan, merasa bersalah dan salah tanggap si Uli langsung teriak.
"Bukan cuma gua yang tahu, itu tuh yang di bawah juga tahu kok!" kata si Uli sambil menunjuk Udin. *


Ramuan MADURA

AKIBAT melihat tayangan iklan TV Ramuan Madura, bu Wangsih merengek-rengek ke pak Wangsih supaya dibelikan ramuan tersebut agar supaya suaminya lebih suka "rapat" di rumah.
Karena kesal mendengarkan rengekan istrinya terus menerus, pada suatu hari sehabis gajian ia langsung beli ramuan Madura tersebut, tapi bukan sebungkus yang dibeli pak Wangsih melainkan satu kardus besar.
Agar supaya seluruh keluarga bisa minum ramuan tiap hari, maka jamu tersebut dimasukkan semuanya ke dalam sumur di belakang rumah. Supaya lebih praktis, tidak perlu repot-repot membuat jamu dalam gelas. Demikian pikir keluarga pak Wangsih.
Keesokan harinya, seluruh keluarga heboh karena tali timba sumurnya "dijepit" bibir sumur. *


Lomba menggelengkan GAJAH

PADA suatu hari diadakan sebuah kompetisi perlombaan menggelengkan gajah, yang diikuti oleh tiga negara yaitu Amerika, Jepang dan Indonesia.
Dari Amerika diturunkan para koboi, setelah mengeluarkan seluruh kemampuannya tapi para koboi tersebut belum bisa juga membuat si gajah menggeleng.
Peserta dari Jepang menurunkan kecanggihan teknologinya tapi tetap saja si gajah tidak mau menggeleng.
Terakhir peserta dari Indonesia mas Karyo hanya dengan sebuah ketapel, diketapelah telor si gajah tapi tetap tidak menggeleng, maka ditanyalah si gajah oleh mas Karyo "mau telornya tak ketapel lagi?" Dengan menahan sakit gajah menggeleng dan menjawab tidaaaaaak. (kapanlagi)



Selengkapnya...

74 Peserta ikut MTQ di Kota Kupang

Spirit NTT 5-11 Mei 2008

KUPANG, SPIRIT--Sebanyak 74 orang (46 putra dan 28 putri) mengikuti MTQ ke-22 tingkat Kota Kupang, 30 April- 2 Mei 2008. Materi yang dilombakan tiga cabang, yakni cabang Tilawah, Hifdzil dan cabang Fahmi (cerdas cermat).
Ketua Panitia Pelaksana MTQ, H Alimudin, SE dan Ketua Umum LPTQ Kota Kupang, Drs. Iskandar Kapitan, menyampaikan hal ini dalam laporan pada acara pembukaan MTQ ke-22 di Halaman Masjid Al Hidayah, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Rabu (30/4/2008).
Alimudin menyebut 23 dari 74 orang peserta itu kategori anak- anak (12 putra, 11 putri); kategori remaja 23 orang (12 putra, 11 putri); kategori dewasa 12 (delapan putra dan empat putri); hifdzil Qur'an empat orang (dua putra dan dua putri) dan Fahmi Qur'an empat regu.

Alimudin menyebut tujuan MTQ untuk memasyarakatkan upaya pembelajaran Al Qur'an dan meningkatkan minat baca Al Qur'an, memasyarakatkan budaya membaca Al Qur'an bagi segenap lapisan masyarakat umum umat Islam dan pemahaman serta penguasaan cara membaca Al Qur'an sesuai kaidah- kaidahnya.
"Secara khusus untuk menyeleksi Qori dan Qoriah yang akan menjadi utusan Kota Kupang untuk mengikuti MTQ tingkat propinsi di Atambua, Kabupaten Belu, 24 Mei 2008," ujarnya.
Sementara Iskandar Kapitan mengungkapkan LPTQ dibentuk untuk memasyarakatkan Al Qur'an melalui upaya peningkatan kemampuan umat Islam membaca, memahami dan menjalankan ajaran agama serta nilai-nilai Al Qur'an dalam kehidupan sehari- hari.
Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Plt Sekda Kota Kupang, Drs. Agustinus Harapan,
mengatakan MTQ merupakan momen religius untuk mempersatukan semua dalam sebuah ikatan silahturahmi.
"Saya percaya bahwa walaupun kegiatan ini tidak terlepas dari nuansa kompetitif, namun tidak mengurangi suasana persaudaraan dan keakraban yang nampak di antara peserta. Apapun bentuk dan hasilnya nanti tidak akan mengurangi esensinya sebagai wahana pemersatu dan wadah peningkatan iman dan ketaqwaan kepada Tuhan melalui pemahaman yang komprehensif terhadap kitab suci Qur'an," katanya. (infokom kota kupang)



Selengkapnya...

Pemerintah perhatikan pembangunan pendidikan

Spirit NTT 5-11 Mei 2008

KUPANG, SPIRIT--Pemerintah menyatakan pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa. Karena itu, pemerintah bertekad memberi perhatian besar pada pembangunan pendidikan. Sebab, melalui proses pendidikan tercipta manusia Indonesia seutuhnya sebagai subyek bermutu.
Demikian inti sambutan Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA,
yang dibacakan Plt Sekretaris Kota Kupang, Drs. Agustinus Harapan, pada upacara Hari Pendidikan Nasional tingkat Kota Kupang di lapangan upacara Kantor Walikota Kupang, Jumat (2/5/2008).


Upacara ini bertemakan, "Hardiknas 2008 sebagai bagian dari peringatan 100 tahun kebangkitan bangsa."
Bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan nasional pada bulan Mei 2008, kata menteri, perkembangan dunia pendidikan di Indonesia juga mengalami dinamika seiring dengan perjalanan sejarah bangsa.
"Namun harus diakui bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia selama ini telah banyak mengalami kemajuan meskipun kita juga menyadari bahwa masih terdapat banyak persoalan pendidikan yang harus diselesaikan sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan di era globalisasi," katanya.
Untuk menjawab berbagai tantangan dan kendala yang dihadapi, maka melalui rencana strategis pendidikan tahun 2005-2009 telah ditetapkan tiga pilar kebijakan. Pertama, pemerataan dan perluasan akses pendidikan. Kedua, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan. Ketiga, penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik.
"Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kita telah berjuang dan bekerja keras untuk mengatasi persoalan pendidikan di tanah air," katanya.
Sebagai upaya meningkatkan pembangunan pendidikan, demikian menteri, pemerintah telah mengambil sembilan kebijakan terobosan yang berskala massal selama kurun waktu 2005-2007. Pertama, pendanaan pendidikan melalui program bantuan operasional sekolah (BOS), program BOS buku, program Bantuan Khusus Murid (BKM), program bantuan operasional manajemen mutu (BOMM) dan program beasiswa.
Kedua, peningkatan kualifikasi kompentensi dan sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan. Ketiga, penerapan TIK secara massal untuk pembelajaran dan administrasi. Keempat, pembangunan prasarana dan sarana pendidikan secara massal. Kelima, rehabilitasi prasarana dan sarana pendidikan secara massal, refomasi pembukuan secara massal. Keenam, peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan dengan pendekatan komprehensif. Ketujuh, penguatan tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pendidikan dengan pendekatan komprehensif. Kedelapan, intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan non formal dan in formal untuk menggapai layanan pendidikan kepada peserta didik yang tidak terjangkau pendidikan formal. (infokom kota kupang)

Selengkapnya...

Sekot Kupang buka Kupang Expo

Laporan Thomas Duran, Spirit NTT 5-11 Mei 2008

KUPANG, SPIRIT-- Lima puluh 50 stand berbagai produk mengikuti Kupang Expo yang dipusatkan di Jalan Garuda, Kampung Solor-Kupang. Kegiatan yang berlangsung selama sebulan ini dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Sekot Kupang, Drs. Agus Harapan, Sabtu (3/5/2008).
"Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama manajemen Pentasindo Enterprise dan Pemerintah Kota Kupang," kata Ketua Panitia Kupang Expo, Willy Radjah, pada acara pembukaan yang dipusatkan di ruko milik pemkot itu.

Menurut Willy, Kupang Expo dan Trend Produc 2008 ini diikuti sejumlah mitra bisnis, di antaranya pedagang elektronik, provider, kosmetik, tanaman hias, handycraft, accessories dan Kaset VCD dan DVD masing-masing dua peserta. Sedangkan, stand sepeda motor, tas dan sepatu serta digital photo masing-masing tiga peserta. "Stand garmen diikuti tujuh peserta," katanya.
Pembukaan ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Pdt. LE Pandie-Daepanie. Acara ini dihadiri Ketua MUI NTT, Drs. Abdulkadir Makarim, Kabag Ekbang, Robby Seubelan, Plt Kadisperindag Kota Kupang, Ir. Thomas Gah, Plt Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota (BPMK), Marimin Yunardi, Lurah Solor, Mulyadi Indra Gunawan, S.Sos, serta Plt Lurah Oeba, Ny.Ariance Taullo. Acara ini dimeriakan oleh tarian Ja'i dari Sanggar Dinas Pariwisata Kota Kupang dan diakhiri dengan penarikan undian HP oleh Kabag Ekbang, Robby Seubelan dari central cellular. Undian ini dimenangkan oleh Ama Radja dan diserahkan pimpinan Central Cellular, Anton. *


Selengkapnya...